KONTRADIKSI SANITASI

isi : kritik-kritik kesehatan

“Kontradiksi Sanitasi” Lalat yang sial, ia terjebak perangkap  perekat yang telah dipersipkan pada helaian kertas lem yang memang ada dipasaran produk dari perusahaan, lalu sengaja di jadikan jebakan oleh pengelola kantin,  sa’at lalat  mengais mangsa, lalu ribuan pasang mata lalat berhasil terjebak kakinya melejat pada lem tak mampu lagi berterbangan lagi,  lalu kelaparan, kelamaan  sekarat meredang nyawa, nafas berakhir dan punah harapan hidup panjang, tentu itu adalah upaya keras pengelola kantin untuk membatasi independensi prilaku hidup lalat di lingkungan kantin.

Mahluk ini persis ditemukan menyeluruh di sudut-sudut ruang meskipun ia bertengger secara acak-acakan karena arahnya memang tidak teratur sama sekali dan penulis abadikan dengan memfoto mayat-mayatnya yang lengket bergelimpangan di kertas jebakan,  diambil dari ruas-ruas sudut salah satu kantin di SLTA Negeri, di desa wilayah Propinsi Lampung dan penulispun enjoi ikut menikmati konsumsi bersama mereka puluhan pelajar hampir ratusan sebagai tamu-tamu pelanggan positif  penikmat sajian makanan, hasil fakta dilapangan binatang menjijikan itu tidak pernah mengganggu kesehatan pengelola kantin dan konsumennya, walaupun tampak mengganggu dangat menjijikan jika diamati dan dikaji secara disiplin dari  bidang ilmu kesehatan (medis)  lingkungan aktivitas ia bekerja.

Selama ia mengelola sudah puluhan tahun lamanya tidak pernah sakit apapun sebutannya atau mungkin jenis lalat  ini walaupun tampak menjijikan namun tidak membahayakan kesehatan insan,  tentu untuk menjawab stetmen ini membutuhkan kajian  dan penelitian mendalam oleh para  ahli kesehatan  pada bidangnya , karena gangguan binatang jenis serangga itu yang  berhamburan terjadi hanya musiman ketika disekitar banyak perusahaan musim panen produk ayam potong, mungkin serangga itu kekurangan konsumsi  yang diperlukan ketika hidup dan regenerasi  di sela sela ayam di kandang, di limbah kotoran ayam, lalu berhamburan di seluruh sekitar pemukiman, ruang-ruang rumah, ruang-ruang kantin yang  barangkali atas naluri dan kehebatan penciumanya ia berbondong bondong menuju kantin-kantin yang memberikan ketersediaan kebutuhan hidup serangga lalat.

Ada sebagian masyarakat umum menyatakan keberadaan serangga musiman yang kurang lazim semacam ini tidak pernah dikomentari dari segi resikonya bagi segi kesehatan tubuh,  sudah terbiasa dan  bagaikan telah memiliki imunisasi yang memadai, andaikan ada pembawa virus pantogen yang di antarkan oleh  jenis lalat model ini yang suja dengan limbah sisa makanan bahkan kotoran manusia seperti ludah,  dahak, ninja, kemih, peluh, di antara  serangga itu seolah usianya sebaya jika manusia antara 17 tahun sampai dengan 21 tahun atau 22 tahun sampai 26 tahun meskipun penulis sekalipun belum pernah meneliti secara detail  sesungguhnya dari mulai metamorfosis sampai sejauh mana dinding umur lalat itu, yang tidak terperangkap leluasa hinggap dan terbang berhamburan menuruti getaran hol-hol penangkap getaran udara  sayapnya yang berlapis ganda baik pada bahu atau corak sebelah kanan dan sebelah kiri,  menutupi punggung dan perutnya yang menyerupai kendi, memudahkan terbang kemana maunya, dan hinggap dengan topangan kaki-kakinya yang hampir membentuk rancang siku siku 90 drajat, serta menikmati limbah-limbah bebagai sisa makanan manusia sekecil apapun ukurannya, bagaikan lebah madu yang tersanjung yang dirawat diternak manusia untuk diambil tumpukan madunya yang di ambil dari bungga liar dari tumbuhan di mana-mana,  hinggap di meja, baju dan tutup sajian konsumsi siap santap dan saji, bakwan,  tahu isi, tempe goreng dari bahan kedelai dll. Tenang saja foto di ambil sebelum wabah Corona Virus menteror kesehatan manusia global bukan (kucing).

Penulis :
rohmad
Drs. Rohmad
#Guru fisika SMAN 1 Tanjungbintang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *